Metode Pendidikan Islam
Metode Pendidikan Islam
Allah Swt telah memebekali dan membimbing Rasul-Nya dengan metode pendidikan yang tepat guna membimbing umatnya meniti jalan yang benar, jalan yang diridhai oleh Allah Swt. Dan itu trebukti melahirkan generasi yang sulit dicari bandingannya, generasi yang shalih.
Dalam phostingan kali ini kang admin akan mencoba mengungkapkan metode pendidikan tersebut yang digali dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah saw. Di sini akan kita dapatkan suatu meotde pendidikan yang dapat diterapkan sesuai kondisi, materi, dan obyek didik yang dihadapi. Pembahasannya dengan bahasa yang mudah sehingga memudahkan pembaca blog kang admin ini menerapkannya dan mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi semua orang yang membaca phostingan blog kang admin ini serta dapat mendidik putra-putrinya/anak didiknya agar menjadi anak yang shalih.
Bismillahirohmanirohim...
Segala puji bagi Allah, Tuahn yang telah mengajarkan kalam-Nya kepada manusia dan memberinya petunjuk untuk membedakan kebenaran dengan kebatilan. Tuhan yang telah memberi fitrah dalam diri manusia untuk memilih jalan yang baik atau yang buruk. Tuhan yang memberi balasan kepada manusia sesuai dengan amalannya.
Shalawat serta salam semoga senantiasa Alla curahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarganya, para sahabatnya, para syuhada, para shalihin, dan penerus risalahnya. Dengan terutusnya Nabi Muhammad saw., untuk membawa risalah Islam kepda umat manusia, maka manusia mendapat petunjuk-petunjuk rinci bagi kepentingan dirinya dalam kehidupan orang-seorang, masyarakat, bangsa dan negara.
Pendidikan tidak terlepas dari kebutuhan metodologi yang tepat agar sasaran yang hendak dicapai dalm pendidikan dapat mencapai hasil yang diharapkan. Fungsi metodologi pendidikan adalah memberikan jalan kepda pendidik berbagai cara yang baik yang dapat dipergunakan dalam mendidik sesuai dengan kondisi dan situasi yang ada pada obyek didik. Karena itu, dalam mendidik, pendidik tidak dapat mengandalkan satu metodologi saja dan menyatakan mutlak benarnya metodologi tersebut serta menganggap bahwa metodologi tersebut dapat diterapkan pada setiap situasi dan kondisi terhadap obyek didik yang bermacam-macam. Mengingat obyek didk yang berbeda-beda, maka tidaklah bijaksana jikalau pendidik hanya mengandalkan satu metodologi saja.
Macam-macam metode pendidikan yang dapat dipergunakan pada situasi, kondisi, dan obyek didik dapat kita gali dari Al-Qur'an. Dalam Al-Qur'an kita dapat menemukan berbagai macam metode pendidikan atau metode dakwah yang Allah swt terapkan dalam membekali dan membimbing Rasul-rasul-Nya untuk mengajak umat manusia menuju jalan kebenaran yang diridhoi oleh Allah. Pada hakekatnya pendidikan dalam pandangan Islam merupakan bagian yang tak terlepaskan dari dakwah Islam. Oleh karena itu, metodologi dakwah yang dilakukan oleh rasul-rasul Allah berlaku juga sebagai metodologi pendidikan pada obyek didik. Pemapran Al-Qur'an tentang berbagai metode dakwah yang dipraktekan oleh rasul-raul Allah dapat kita jadikan referensi dalam membangun metodologi pendidikan dengan menanamkan jiwa agama pada anak didik.
Merujuk pada apa yang telah dikemukakan di atas ada beberapa Metode Pendidikan Islam yang kang admin berikan bersumber dari Al-Qur'an dan mudah-mudahan dapat menjadi sumber pelengkap bagi para pendidik dalam mendidik anak didiknya agar lebih baik lagi, diantaranya yaitu :
1. TA'LIM (Memberi Tahu)
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surat Al-Baqarah yang artinya :"Dan Dia memberitahukan (Ta'lim) kepada Adam seluruh nama-nama, kemudian memperlihatkannya (ma'radl) kepada para malaikat, lalu berfirman: "Beritahukanlah (naba') kepada-Ku nama-nama benda itu jika kamu memang benar!" Mereka menjawab: 'Mahasuci Engkau, kami tidak sedikit pun pengetahuan, kecuali apa yang telah Engkau beri tahukan kepada kami. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (Q.S. Al-Baqarah(2) ayat:31-32).
Penjelasan:
Ta'lim secara harafiah artinya memberitahukan sesuatu kepada seseorang yang belum tahu. Dalam perbendaharaan bahasa Arab modern, kata ta'lim dipergunakan dalam pengertian pengajaran. Bila kita perhatikan ayat di atas, motede yang Allah gunakan dalam transformasi ilmu atau pengetahuan kepada Adam as., adalah metode ta'lim. Metode ini digunakan pada tingkat awal, karena dimaksudkan untuk pengenalan benda-benda. Ini merupakan suatu proses yang bersifat fitrah bahwa setiap orang pada awalnya tidak tahu nama benda yang ada di depannya dan dia memerlukan sekedar pemberitahuan.
Metode ta'lim merupakan metode dasar dalam pendidikan, bahkan dalam aktivitas komukasi antara seseorang dengan orang lain. sebelum pembicara lebih jauh dilakukan pemberitahuan agar tidak menimbulkan kesalah pahaman, maka pihak-pihak yang bersangkutan harus menyamakan pengertian tentang obyek yang dibicarakan. Disini kedua belah pihak dituntut untuk saling memberi tahu pengenalan atau pengetahuannya tentang obyek yang dimaksud. Misalnya, dua orang yang mengadakan transaksi buah-buahan; seorang bersuku bangsa Sunda dan mitranya Jawa. Yang Sunda menyebutkan kata gedang. Menurut pengertian orang Jawa, gedang berarti pisang, sedang pengertian orang Sunda, gedang itu adalah pepaya. Disini kedua belah pihak perlu menyamakan pengertian tentang obyek transaksinya supaya tidak timbul perselisihan dikemudian hari. karenanya, diperlukan ta'lim
Metode ta'lim merupakan metode dasar dalam pendidikan, bahkan dalam aktivitas komukasi antara seseorang dengan orang lain. sebelum pembicara lebih jauh dilakukan pemberitahuan agar tidak menimbulkan kesalah pahaman, maka pihak-pihak yang bersangkutan harus menyamakan pengertian tentang obyek yang dibicarakan. Disini kedua belah pihak dituntut untuk saling memberi tahu pengenalan atau pengetahuannya tentang obyek yang dimaksud. Misalnya, dua orang yang mengadakan transaksi buah-buahan; seorang bersuku bangsa Sunda dan mitranya Jawa. Yang Sunda menyebutkan kata gedang. Menurut pengertian orang Jawa, gedang berarti pisang, sedang pengertian orang Sunda, gedang itu adalah pepaya. Disini kedua belah pihak perlu menyamakan pengertian tentang obyek transaksinya supaya tidak timbul perselisihan dikemudian hari. karenanya, diperlukan ta'lim
2. TABYIIN (Memberi Penjelasan)
Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 2, bahwasanya dalam ayat tersebut dijelaskan tentang kejadian antara Nabi Musa dengan kaumnya. Nabi Musa as berkata kepada kaumnya bahwa Allah memerintah mereka untuk menyembelih sapi. Ini disebut Musa menta'liim kaumnya. ketika kaumnya mendengarkan ta'liim Musa ini, mereka merasa tidak jelas karena pengertiannya masih bersifat umum. Mereka meminta penjelasan lebih jauh tentang sapi yang dimaksud, kemudian Musa menjelaskan keadaan sapi yang menjadi pokok perosalan pada ayat ini.
Dari ayat tersebut diberikan isyarat adanya penggunaan metode tabyiin dalam memberikan keterangan kepada lawan bicara. Penjelasan dari Metode Tabyiin yaitu memberi penjelasan lebih jauh kepada lawan bicara setelah dia mengajukan permintaan penjelasan lebih jauh atas pemberitahuan yang diterimanya tau menyampaikan sanggahan atas keterangan yang diterimanya karena ingin mendapatkan penjelasan lebih mendalam mengenai obyek pembicaraan. Metode Tabyiin kita gunakan bilamana orang yang kita beri tahu meminta keterangan lebih jauh tentang obyek yang diberitahukan secara umum. Hal ini terjadi sehari-hari dalam kehidupan.
Tafsir Ayat Al Quran Mengenai Nabi dan Rasul
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Di dalam
Al-Quran tidak kurang dari 431 kali kata Rasul baik dalam bentuk tunggal
(singular) maupun jamak (plural) disebutkan telah dinyatakan dalam hadis bahwa
jumlah Rarusl ada 124.000 orang. Karena itulah kita harus beriman kepada semua
Rasul yang dibangkitkan di India, Lina, Iran, Mesir, Afrika, Eropa, dan
dinegeri-negeri lainnya di dunia.
B.
Pokok Permasalahan
Mengenai
ayat-ayat tentang kerasulan atau kenabian yang mana misi seorang Rasul adalah
menyampaikan risalah-risalah Tuhan kepada umatnya. Sedangkan tugas seorang Nabi
mempunyai prinsip yang sama dan tidak bertentangan antara yang satu denagn yang
lainnya.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
DEFINISI
Menurut bahasa,
nabi berarti orang yang memberi kabar, orang yang mengkhabarkan hal-hal ghaib,
orang yang melamarkan sesuatu. Adapun yang dimaksud dalam terminologi agama
ialah, Nabi adalah seorang manusia yang memperoleh wahyu dari Allah yang berisi
syariat, sekalipun tidak diperintahkan untuk disampaikan kepada mansuia
lainnya. Jika dia mendapat perintah Allah untuk disampaikan kepada orang lain,
dinamailah dia Rasul. Setiap Rasul itu Nabi, tetapi tidak setiap nabi itu
rasul.
Di dalam
Al-Quran tidak kurang dari 432 kali kata Rasul baik dalam bentuk tunggal
(singular) maupun jamak (plural) disebutkan telah dinyatakan dalam hadis bahwa
jumlah Rarusl ada 124.000 orang. Karena itulah kita harus beriman kepada semua
Rasul yang dibangkitkan di India, Lina, Iran, Mesir, Afrika, Eropa, dan
dinegeri-negeri lainnya di dunia. Akan tetapi kita tidak dapat memastikan
seseorang di luar daftar para rasul yang nama-namanya tercantum di dalam al-quran, apakah dia seorang Rasul
atau bukan, sebab kita tidak diberitahu secara pasti tentang dia. Tidak pula
kita diizinkan mengatakan penolakan terhadap orang-orang suci dari agama-agama
ain. Sagat dimungkinkan bahwa sebagian dari mereka adalh para rasul Allah, dan
para pengikut merekalah yang menyelewengkan ajaran-ajaran mereka setelah mereka
tiada, seperti halnya para pengikut Musa dan Isa as.
Dalam hubungan
itu perlu dibedakan Rasul berupa malaikat dengan Rasul berupa Nabi, selain
Rasul dalam bentuk malaikat, di dalam Al-Quran juga tidak dapat dibedakan
antara Nabi dan Rasul, justru nabi-nabi yang tercantum namanya itu sekaligus
sebagai Rasul pula. Firman Allah dalam QS. Al-Hajj : 75
¨bÎ) Îû y7Ï9ºs ;M»tUy tûüÏÿ¿duqtGçHø>Ïj9 ÇÐÎÈ
Artinya:
“Allah memilih utusan-utusan-Nya dari
malaikat dan dari manusia; Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha
Melihat”.
Dalam
ayat tersebut menyatakan bahwa Allah berkehendak dan menetapkan memilih dari
jenis malaikat dan juga jenis manusia untuk menjadi utusan-utusan-Nya. Ayat ini
juga menunjukkan bahwa rislah illahiyah kerasulan atau kenabian adalah wewenang
Allah semata-mata.
B.
TUJUAN DIUTUSNYA PARA RASUL
1.
QS. Al-Baqarah 119
!$¯RÎ) y7»oYù=yör& Èd,ysø9$$Î/ #Zϱo0 #\ÉtRur ( wur ã@t«ó¡è@ ô`tã É=»ptõ¾r& ÉOÅspgø:$# ÇÊÊÒÈ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah mengutusmu
(Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi
peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang
penghuni-penghuni neraka”.
2.
QS. Al-Anbiya 45
ö@è% !$yJ¯RÎ) Nà2âÉRé& ÄÓóruqø9$$Î/ 4 wur ßìyJó¡t OÁ9$# uä!%tæ$!$# #sÎ) $tB crâxZã ÇÍÎÈ
Artinya : “Katakanlah (hai Muhammad): "Sesungguhnya
aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan Tiadalah
orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan"
3.
QS. Yasin 1
$yJ¯RÎ) âÉYè? Ç`tB yìt7©?$# tò2Ïe%!$# zÓÅ´yzur z`»uH÷q§9$# Í=øtóø9$$Î/ (
çn÷Åe³t6sù ;otÏÿøóyJÎ/ 9ô_r&ur AOÍ2 ÇÊÊÈ
Artinya: “Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan
kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan
yang Maha Pemurah walaupun Dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira
dengan ampunan dan pahala yang mulia.”
Maksudnya peringatan
yang diberikan oleh Nabi Muhammad s.a.w. hanyalah berguna bagi orang yang mau
mengikutinya.
Kata ittaba
teambil dari kata tabi’a yang berarti mengikuti. Penambahan huruf ta’ pada kata
terseut mengandung makna kesungguhan. Siapa yang bersungguh-sungguh mengikuti
adz-dzikr yani al-quran, maka ia akan memperhatikan dengan seksama dan
meneladani Nabi Muhammad Saw, akan lahir keimanan yang kukuh dan mantap.
Penggunaan kata
ar-rahman pada ayat ini dan bukan lafadz “Allah” bertujuan menegaskan bahwa
yang dimaksud adalah Tuhan yang disembah oleh Nabi Muhammad saw, bukan Tuhan
yang mereka persekutukan dengan berhala-berhala. Adapun ar-rahman yang
diperkenalkan Rasulullah saw sebagai salah satu nama Tuhan semesta alam. Kaum
beriman yakni bahwa Dia Maha Pengasih, namun demikian, keyakinan tersebut tidak
menjadi mereka lengah dari sifat-Nya yang lain, seperti jabbar/maha perkasa
lagi muntaqim/Maha Pembalas kesalahn pendurhaka.
4.
QS. An-Nahl 36
ôs)s9ur $uZ÷Wyèt/ Îû Èe@à2 7p¨Bé& »wqß§ Âcr& (#rßç6ôã$# ©!$# (#qç7Ï^tGô_$#ur |Nqäó»©Ü9$# (
Nßg÷YÏJsù ô`¨B yyd ª!$# Nßg÷YÏBur ïÆ¨B ôM¤)ym Ïmøn=tã ä's#»n=Ò9$# 4
(#rçÅ¡sù Îû ÇÚöF{$# (#rãÝàR$$sù y#øx. c%x. èpt7É)»tã úüÎ/Éjs3ßJø9$# ÇÌÏÈ
Artinya: “dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul
pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Thaghut itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)”.
Kata thaghut
terambil dari kata thagha yang pada mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa
juga dipahami dalam arti berhala-berhala, karena penyembahan berhala adalah
sesuatu yang sangat buruk dan melampaui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata
tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti
kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan kesewenang-wenangan terhadap manusia.
Hidaya
(petunjuk) yang dimaksud ayat di atas adalah hidayah khusus dalam bidang agama
yang dianugerahkan Allah kepada mereka yang hatinya cenderung untuk beriman dan
berupaya untuk mendekatkan diri kepada-Nya. Secara panjang lebar macam-macam
hidayah Allah telah penulis kemukakan ketika menafsirkan surah Al-fatihah. Di
sana antara lain penulis kemukakan bahwa dalam kebahagiaan duniawi dan ukhrawi.
Cukup banyak ayat-ayat yang menggunakan akar kata hidayah yang mengandung makna
ini, misalnya:
t4 y7¯RÎ)ur üÏöktJs9 4n<Î) :ÞºuÅÀ 5OÉ)tGó¡B ÇÎËÈ
Artinya: “dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi
petunjuk kepada jalan yang lurus”. (as-sura:52)
Kedua hidayah
(petunjuk0 serta kemampuan untuk melaksanakan isi hidayah itu sendiri. Ini
tidak dapat dilakukan kecuali oleh Allah SWT, karena itu ditegaskannya bahwa:
y7¨RÎ) w ÏöksE ô`tB |Mö6t7ômr& £`Å3»s9ur ©!$# Ïöku `tB âä!$t±o 4 uqèdur ãNn=÷ær& úïÏtFôgßJø9$$Î/ ÇÎÏÈ
Artinya: “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi
petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada
orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau
menerima petunjuk”. (Al-Qashash: 56)
Allah
menganugerahkan hidayah kedua ini kepada mereka yang benar-benar ingin
memperolehnya dan melangkahkan kaki guna mendapatkannya.
Ketika berbicara
tentang hidayah, secara tegas ayat di atas menyatakn bahwa Allah yang
menganugerahkannya, berbeda ketika menguraikan tentang kesesatan. Redaksi yang
digunakan ayat ini adalah telah pasti atasnya sanksi kesesatan, tanpa menyebut
siapa yang menyesatkan. Hal ini mengisyaratkan bahwa kesesatan tersebut pada
dasarnya bukan bersumber pertama kali dari Allah SWT, tetapi dari mereka
sendiri. Memang ada ayat-ayat yang menyatakan bahwa : “Allah menyesatkan siap yang Dia kehendaki”, tetapi kehendak-Nya
itu terlaksana setelah yang bersangkutan sendiri sesat.
øÎ)ur tA$s% 4yqãB ¾ÏmÏBöqs)Ï9 ÉQöqs)»t zNÏ9 ÓÍ_tRrè÷sè? s%ur cqßJn=÷è¨? ÎoTr& ãAqßu «!$# öNà6ös9Î) (
$£Jn=sù (#þqäî#y sø#yr& ª!$# öNßgt/qè=è% 4
ª!$#ur w Ïöku tPöqs)ø9$# tûüÉ)Å¡»xÿø9$# ÇÎÈ
Artinya: “dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada
kaumnya: "Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui
bahwa Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?" Maka tatkala mereka
berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada kaum yang fasik”.
Maksudnya karena
mereka berpaling dari kebenaran, Maka Allah membiarkan mereka sesat dan
bertambah jauh dari kebenaran.
C.
MISI AJARAN SELURUH RASUL
1.
Q.S. Ibrahim 4
!$tBur $uZù=yör& `ÏB @Aqß§ wÎ) Èb$|¡Î=Î/ ¾ÏmÏBöqs% úÎiüt7ãÏ9 öNçlm; ( @ÅÒãsù ª!$# `tB âä!$t±o Ïôgtur `tB âä!$t±o 4 uqèdur âÍyèø9$# ÞOÅ3ysø9$# ÇÍÈ
Artinya: “Kami tidak mengutus seorang rasulpun,
melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan
terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan
memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. dan Dia-lah Tuhan yang Maha
Kuasa lagi Maha Bijaksana.”
Di atas penulis
jelaskan maka illa bi lisani quamihi denga “kecuali dengan juga sebagai
cerminan dari pikiran dan pandangan pengguna bahasa itu. Bahasa dapt
menggambarkan watak dan pandangan masyarakat pengguna bahasa itu.
Ini merupakan
bagian dari kasih saying Allah kepada makhluk-Nya bahwa Dia mengutus
Rasul-rasul dari kalangan mereka sendiri dan dengan menggunakan bahsa mereka
supaya mereka dapat memahami risalah yang dibawa oleh para Rasul . hal ini
seprti diriwayatkan oleh imam Ahmad dari Abi Dzar, dia berkata bahwa,
rasulullah saw bersabeda: yang artinya :”Tidaklah Allah azza wa jalla mengutus
seorang Nabi kecuali dengan bahasa kaumnya”. (HR Ahmad)
2.
QS. Fathir 24
!$¯RÎ) y7»oYù=yör& Èd,ptø:$$Î/ #Zϱo0 #\ÉtRur 4 bÎ)ur ô`ÏiB >p¨Bé& wÎ) xyz $pkÏù ÖÉtR ÇËÍÈ
Atinya: “Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan
membawa kebenaransebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan.
dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi
peringatan”.
Karena tugas
Nabi Muhammad saw selain member peringatan juga membawa berita gembira, maka
ayat ini melanjutkan dengan menyatakan bahwa : sesungguhnya kami mengutusmu kepada seluruh unat manusia dengan haq
yakni perutusan yang haq lagi membawa kebenaran serta dari sumber Yang Haq
yakni Allah SWT, engkau adalah pembawa berita gembira bagi yang taat dan
pemberi peringatan bagi yang durhaka. Dan tidak ada satu pun dari umat yang
terdahulu melainkan telah berlalu yakni telah dating padanya seorang pemberi
peringatan-baik sebagai nabi atau rasul yang ditugaskan langsung oleh Allah,
maupun sebagai penerus ajaran Nabi dan Rasul.
Thabathaba’I
menjadikan firman-Nya wa in min ummatin illa khala fiha nadzir/dan tidak ada
satu umat pun melainkan telah berlalu padanya seorang pemberi peringatan,
menajdikannya sebagai bukti bahwa setiap generasi masa lalu telah didatangi
oleh seorang Rasul. Ini karena ulama itu memahami kata nadzir dalam arti
“Rasul” yang menyampaikan berita gembira dan peringatan. Memang tulisannya
tidak harus nabi itu berasal dari anggota masyarakat yang ada, karena ayat ini
tidak menggunakan kata minba/dari mereka tetapi fiha yakni di dalam masyarakat
mereka.
3.
QS. Al-Mu’min 78
uqèdur üÏ%©!$# r't±Sr& â/ä3s9 yìôJ¡¡9$# t»|Áö/F{$#ur noyÏ«øùF{$#ur 4 WxÎ=s% $¨B tbrãä3ô±n@ ÇÐÑÈ
Artinya: “dan Dialah yang telah menciptakan bagi kamu
sekalian, pendengaran, penglihatan dan hati. Amat sedikitlah kamu bersyukur”.
Persoalan ini
memiliki banyak latar belakang. Allah mengisahkan sebagiannya di dalam kitab
panjang, yang mengatarkan, yang jelas dan yang memiliki rambu-rambu. Juga
isyarat tentang jalan ditegaskan oeh sunnah terdahulu yang berlaku dan tidak
dapat diingkari, serta penjelasan tentang hakikat risalah, fungsi Rasul, dan
batasan-batasannya dengan sangat jelas.
Allah juga
hendak memberikan pengertian kepada manusia ihwal hakikat ketuhanan dan
kenabian. Mereka mengetahui bahwa para raasul itu mansuia seperti mereka, yang dipilih
Allah, dan ditentukan tugasnya. Mereka tidak mampu dan tidak pernah berusaha
untuk melampaui batas-batas tugas ini. Juga supaya manusia mengetahui bahwa
penangguhan suatu kejadian luar biasa merupakan rahmat bagi mereka.
BAB III
PENUTUP SIMPULAN
A.
Kesimpulan
1.
Bahwa setiap
nabi dan Rasul diutus oleh Allah dengan utusan yang sama yaitu menyampaikan
kabar gembira kepada umat manusia.
2.
Sebagai umat
manusia yang beriman tentunya wajib bagi kita untuk mengimani akan adanya rasul
dan nabi, baik yang kita ketahui csecara umum maupun yang tidak kita ketahui
sebagaiman telah dijelaskan di dalam Al-Quran.
3.
Dengan selalu
mempercaya dan mengamalkan apa-apa yang telah rasul ajarkan kepada kita maka
kita akan terhindar dari kesesatan.
B.
Saran
Dalam pembuatan
makalah yang singakt ini tentunya ada banyak kekurangan baik dalam penulisan
maupun dalam penysunan makalah ini. Oleh sebab itu kritik dan saran dari dosen
pembimbing manapun teman-teman sangat kami harapkan demi penyempurnaan makalah
ini. Akirnya kami ucapkan terima kasih.
DAFTAR PUSTAKA
Muhmudunnasir,
Syed, Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1984), Cet.II
Baqy, al, Abd.,
Muhammad Fu’ad, Mu’jam Al-Mufabrats li Al-qadz al-Quran al-Karim, (Berut : Dar
al-fikr, 1987 H/1987 M).
Langganan:
Postingan (Atom)




